Pantai Nglambor Backpackeran
Jumat pagi 4
Mei 2018 saya dan zaujah berangkat ke jogja untuk menjenguk anak kami yang
sekolah di pondok pesantren SahabatQu Deresan Sleman. Kebetulan penjengukan
kali ini dapat 2,5 hari libur, dijemput jumat ba’da ashar dan kembali ahad
ba’da ashar.
Libur tersebut
kami manfaatkan untuk mengajak nak daffa syarif berlibur ke pantai di
Gunungkidul. Setelah searching di web tentang pengalaman backpacker di pantai –
pantai Gunungkidul, akhirnya saya memutuskan untuk ke pantai Nglambor. Kredit
kami berikan kepada website ayodab.tumblr.com, www.gunungkidulku.com, www.lensanasrul.com,
spadepicnic.wordpress.com, threexplorer.blogspot.co.id, pantainglambor.com, dan
aecaesa.blogspot.co.id, yang artikel-artikel tentang camping, backpackeran dan
pantai Nglambor nya telah memberikan wawasan buat kami untuk bekal backpackeran ini.
Jumat malam
kami survey ke tempat persewaan peralatan kemah di sebelah utara Fakultas
Peternakan UGM. Berhubung ini adalah pengalaman pertama kami untuk family
camping, maka kami konsultasi dulu dengan penjaga persewaan outdoor gear tentang
peralatan paling minimal yang diperlukan untuk camping 3 orang. Lalu kami pun
langsung booking tenda doom kapasitas 2 orang 1 unit, matras 2 buah, sleeping
bag dakron 3 buah, kompor mini 1 buah, gas mini 1 buah, emergency lamp 1 buah
dan Tas kapasitas 60 liter 1 buah. Kami juga membeli headlamp 1 buah untuk
tambahan peralatan. Pinjam powerbank adik ipar buat ngecharge hp, ingat disana
kalau tidak bawa powerbank pasti kesulitan ngecharge hp buat malam hari.
Sebenarnya
kami ingin berangkat ke Gunungkidul sabtu habis shubuh, tapi karena persewaan
alat camping buka nya jam 9 pagi maka terpaksa kami pun sesuaikan jadwal dengan
jam buka toko tersebut. Karena pertimbangan kalau kami sewa dari jumat malam
dan kembali ahad siang maka oleh pihak persewaan dihitung 2 hari. Dari
pengalaman ini kami sarankan teman – teman sebaiknya sewa alat camping semalam
sebelumnya, dinego saja dengan yang punya toko hitung satu setengah hari,
pertimbangan utamanya agar bisa berangkat pagi.
Sabtu pagi
kami baru persiapan bekal, mulai beli snack, perlengkapan P3K, sampai mengambil
peralatan camping yang telah kami booking tadi malam. Untuk perlengkapan baju
sudah kami siapkan semalam sebelumnya, kami masing-masing bawa 2 baju, 1 celana
panjang, 1 celana pendek. Akhirnya pukul 10 kami baru bisa berangkat.
Perjalanan kami berawal dengan diantar adik ipar ke halte trans Jogja di depan
plaza UNY. Tiket trans jogja Rp 3500/orang. Karena dari halte UNY tidak ada
trans jogja yang langsung ke Terminal Giwangan, oleh petugas loket kami disuruh
nanti turun di halte stadion Kridosono lalu oper trans jogja 4B jurusan ke
terminal Giwangan.
Di
halte trans jogja plaza UNY
Sampai di
terminal Giwangan hampir pukul 11. Kami langsung turun dan menuju ke bus mini
jurusan Terminal Dhaksinarga Wonosari. Daffa dan Ibunya duduk di kursi paling
depan, saya duduk di kursi samping pak kernet berdiri. Tiket dari terminal
Giwangan ke Terminal Wonosari Rp 15000/orang. Saya bayar Rp 50.000 untuk 3
orang awalnya tidak dikasih kembalian, setelah mau masuk Kota wonosari saya
Tanya ke pak kernet apakah uangnya pas atau tidak ? ternyata dikasih kembalian
Rp 5000.
Perjalanan
dari Giwangan menuju Wonosari cukup menyenangkan. Bus keluar terminal Giwangan
dengan penumpang tidak sampai separuh, 9 orang saya hitung . lalu ketika
berhenti ngetem di pertigaan ring road dapat tambahan 5 orang penumpang. Sepanjang
perjalanan saya menikmati betul pemandangan perbukitan Gunungkidul yang khas
bebatuan. Saya masih takjub dengan ciptaan Allah Ar Rahman tanah Gunungkidul yang berupa perbukitan ‘karst’. Batuan
gamping/kapur, bercampur dengan batuan berongga yang seolah-olah terbentuk
karena dimakan Rayap pemakan batu, lalu ditutupi oleh pepohonan jati, kayu
jowo, dan belukar. Masyaallah Luar biasa saya sangat takjub. Dikursi depan saya
tengok Daffa sudah tidur, sedang zaujah masih asyik menikmati pemandangan sebagaimana
saya. ketika diatas bis arah wonosari ini pak kernet menawarkan jasa antar
jemput langsung ke pantai Nglambor, tapi karena mereka mematok harga yang
terlalu mahal akhirnya kami tolak. Mereka minta ongkos Rp 500.000 pulang –
pergi dari terminal wonosari ke TKP pantai Nglambor. Terlalu mahal menurut
kami. Akhirnya kami tiba di terminal Wonosari sekitar pukul 14. Begitu turun
kami langsung diserbu dengan orang-orang yang menawarkan jasa antar jemput ke
tempat-tempat wisata Gunungkidul. Tidak Nampak ada angkot ataupun angkudes
seperti yang banyak diceritakan para blogger menuju ke Jepitu via Tepus atau
jalur 11, bisa jadi karena kami kesiangan tiba di terminal wonosari hingga
angkudes tersebut sudah habis trayek untuk hari itu. Dan akhirnya kami pun
memutuskan nyarter mobil plat hitam saja. Setelah nego harga akhirnya kami
sepakat untuk memakai jasa mas ari pemilik mobil carry dengan harga antar Rp
125.000 dan harga jemput Rp 100.000 untuk rute terminal Dhaksinarga – pantai
Ngambor lewat pasar Semanu. Saat lewat pasar Semanu kami bilang kepada mas Ari
untuk berhenti di salah satu warung makan Ayam Goreng depan apotek Semanu.
Disitu kami makan siang dengan menu fried chicken paketan Rp 12.000/ paket dan
juga bungkus Nasi goreng Rp 10.000/bungkus untuk makan malam. Di rumah makan
tersebut rupanya ada pelajar putri setingkat SMP yang lagi pesta ulang tahun.
Acara makan mereka sih sudah selesai, tapi aksi foto – fotonya itu yang bikin
Daffa kurang nyaman. Maklum mereka seusia jadi pasti ada rasa geer dikit sesama
remaja. Puber. Kami juga mengambil uang di ATM Bank BPD pasar semanu mengingat
setelah ini kata sopir tidak ada lagi atm. Setelah makan kami lalu lanjutkan
perjalanan menuju TKP. Subhanallah unik juga rasanya backpackeran, saya
meskipun orang desa tapi tidak bosan-bosannya dengan pemandangan pedesaan
Gunungkidul. Ditengah perjalanan sopir kami menunjukan bahwa dulu bukit yang
kami lewati ini terendam banjir pada November 2017. Kami pun tak habis pikir
masak gunung bisa banjir ? tapi begitulah ketika Allah Al Aziz hendak menguji
hambanya apapun cobaan bisa terjadi.
Suasana
pedesaan menuju Nglambor
Tibalah kami
diparkiran pantai Nglambor sekitar pukul 15.30. yang unik ternyata saat lewat
pos restribusi kami tidak ditarik tiket masuk, tapi dari keterangan sopir kami
tiketnya hanya Rp 5.000/orang. Setelah turun dari mobil pengantar, banyak ojek
menawari kami untuk mengantar ke pantai, tapi kami memilih jalan kaki ke arah
pantai. Setelah berjalan kira-kira 10 menit Daffa berkata “wah udah bau pantai
pak”, ternyata benar beberapa langkah kemudian pantai Nglambor pun terlihat
dipandangan mata. Lega, senang, mata pun berbinar bisa menyaksikan keindahan
pantai laut selatan dengan gulungan ombaknya menderu dan menghantam 2 pulau
karang yang terbentang dipandangan kami.
Turun
di parkiran mobil lalu jalan kaki ke arah pantai
Melewati jalan
menurun ada tanda panah ke kiri pantai Nglambor dan wahana snorkelingnya, kami
ikuti jalan tersebut hingga dapati sebuah pemandangan menakjubkan pantai
berpasir putih, dilindungi dua pulau karang yang menghadang ombak laut selatan,
bergulung – gulung ombak menghantam lalu pecah menjadi buih putih menyejukkan
mata memandang, puluhan wisatawan berenang dengan asyik, ada yang terlihat
mencari biota laut, serta sebagian duduk-duduk diatas pasir putih nikmati angin
pantai yang menyejukkan. Subhanallah lunas sudah rasa lelah letih perjalanan
kami.
2 Pulau
karang pelindung pantai Nglambor
Waktu
menunjukkan pukul 15.30 kamipun shalat dhuhur jamak dan shalat ashar di Mushola
kecil berpanggung yang ada dilokasi
pantai. Selepas shalat kami langsung mendirikan tenda disamping timur rumah
mbah Mo (mbah Sutiyem), sesepuh Nglambor yang sangat ramah menyapa kami.
Setelah tenda doom berdiri, lantas kami letakkan barang-barang didalam tenda
kemudian bergegas menuju pantai untuk bermain air.
Bulu
babi bersembunyi dibalik bebatuan
Sabtu malam
ahad kami menginap di pantai ditemani bintang-bintang di langit yang terlihat
bersinar terang. Suasananya sungguh syahdu. Gelap malam dan suara dentuman
ombak menemani kami malam itu. Tiba waktu maghrib kami pun menunaikan shalat.
Selepasnya kami memasang kompor untuk bikin minuman hangat. Jahe, coklat panas
dan sereal hangat memberi kehangatan untuk tubuh kami. Nasi goreng yang sebelumnya
kami bungkus dipasar Semanu pun jadi menu santap malam. Alhamdulillah kenyang
banget. Tak seberapa lama ada pemandangan unik penduduk kampung yang notabene
para pemilik warung, wahana snorkeling, serta penjaga penginapan terlihat
berjalan turun ke pantai dengan headlamp terpasang. Rupanya saat lepas isya’
adalah waktu terbaik untuk berburu ikan, lobster, bulu babi, gurita, udang, dan
beberapa biota laut lain sebagai penambah nafkah untuk mereka penduduk
Nglambor. Kami hanya menyaksikan dari atas melihat sorot headlamp yang
menyinari perburuan biota laut tersebut. Buat anda yang ingin menginap di
Nglambor kami sarankan untuk mebawa bekal headlamp, sepatu karet, dan serok
ikan agar bisa merasakan keunikan aktifitas berburu binatang laut. Beberapa
saat kemudian tiba rombongan anak-anak muda sekitar 10 orang yang ternyata juga
akan camping di Nglambor. Alhamduillah ada teman akhirnya. Pukul 20.30 rupanya
mata kami sudah tidak mampu untuk membuka, kamipun mulai merapikan tempat
tidur. Daffa dan ibunya tidur didalam tenda, sedang saya menggelar matras dan
masuk dalam kepompong sleeping bag untuk tidur diluar tenda. Berharap besoknya
bisa bangun fajar untuk shalat shubuh kemudian berburu sunrise dipuncak bukit
sebelah timur kami.
Menu
makan malam nasgor bungkus sewaktu di pasar Semanu
Ternyata malam
itu saya berulang kali terjaga, dan tiap kali terbangun yang terdengar adalah
dahsyatnya gemuruh ombak laut selatan serta yang terpampang adalah indahnya
bintang – bintang dilangit. Masyaallah seneng banget, pengalaman pertama
camping keluarga yang nyaris sempurna buat kami. Rupanya didalam tenda suhunya
agak panas, sehingga daffa dan ibunya malah menjadikan sleeping bag sebagai
alas tidur. Kalau tahu begini kami hanya perlu sewa 1 buah sleeping bag saja,
karena camping yang kami lakukan di awal musim kemarau sehingga udara di daerah
pantai tidak terlalu dingin.
Pukul 2 dini
hari kami bertiga terbangun, menjalani panggilan alam, lalu menyalakan kompor
untuk masak mie instan cup sambil lagi-lagi menikmati indahnya kemilau bintang
yang menaungi kami. 30 menit kemudian kami tidur kembali sambil berharap agar
tidak bangun kesiangan. Alarm pukul 4 fajar membangunkan saya yang lantas
diikuti oleh Zaujah dan anak kami daffa. Setelah duduk-duduk untuk mengumpulkan
nyawa yang terserak, lantas kami mengambil wudlu dan hendak shalat shubuh di
musholla, tapi rupanya musholanya telah berubah menjadi hotel muslimah karena
rombongan anak-anak muda yang lepas isya’ baru datang tersebut yang cewek pada
tidur di dalam musholla. Akhirnya shalat jama’ah shubuh pun terpaksa
dilangsungkan di depan tenda kami. Selepas itu kami pun bersiap menaiki bukit
sebelah timur tenda kami untuk berburu sunrise, bekal kecil kami siapkan kompor
dan beberapa mie instant untuk bekal sarapan diatas bukit.
Terbangun malam memenuhi
panggilan alam. ‘Bongkar muatan’ lalu ‘isi kembali’
Matahari
mulai mengintip di balik bukit
Ketika
matahari mulai naik dan kami pun sudah puas dengan pemandangan pagi diatas
bukit, kami pun turun untuk menjalani menu utama hari ini, snorkeling. Ongkos
wisata snorkeling disini Rp 50.000/orang sudah komplit paket sewa pelampung,
kacamata, selang snorkel, sepatu karet, welcome drink, penitipan bekal, serta
foto-foto underwater bersama para penghuni terumbu karang Nglambor. Meskipun
kami bertiga tidak jago renang, tapi kami merasa aman dan nyaman snorkeling di
sini karena pemandu selalu berjaga mengawasi keamanan kami. Jika kira-kira kami
mulai agak menjauh dari rombongan, biasanya kami diseret oleh pemandu untuk
berada pada radius aman snorkeling. Ingat pantai Selatan tidak boleh diremehkan
karena ombaknya meskipun telah dihadang oleh dua pulau karang tetapi juga masih
berbahaya karena langsung berhadapan dengan palung samudera Indonesia. Puas
rasanya snorkeling di Nglambor. Inilah pertama kalinya kami snorkeling.


Pengalaman
yang sangat berkesan. Daffa terlihat sangat menikmati pengalaman snorkelingnya,
hingga terkadang saking asyiknya dia agak menjauh dari rombongan, tapi selalu
masih ada seorang pemandu didekatnya yang membuat saya tenang meskipun ibunya
sering teriak memanggil dia untuk merapat kerombongan. Maklum naluri keibuan
membuat zaujah agak rewel memperingatkan anak tercintanya. Andai paket
snorkeling ini tidak dibatasi waktu, Rasanya kami tak ingin keluar dari air
laut. Tapi apa boleh buat semua ada batasannya, disamping itu waktu juga sudah
agak siang, teringat kami janjian dengan driver penjemput untuk sampai
diparkiran Mobil pukul 11 siang. Dengan berat hati kami mengakhiri liburan di Nglambor ini, mandi
bilasan, serta berkemas untuk pulang. Setelah mengemasi seluruh peralatan
camping tak lupa kami menaiki bukit disebelah barat tenda untuk menyaksikan
keindahan pantai Nglambor dari bukit sisi barat.
Waktu
sudah pukul 10.30 akhirnya kami pun pamit kepada mbah mo (mbah sutiyem), beliau
adalah sesepuh kampung Nglambor yang telah babat alas membuka wisata pantai
disini. Sekarang anak-anak dan cucu - cucu nya yang memakmurkan wisata disini
dengan membuka paket snorkeling, warung makan ikan bakar, serta penginapan. menuju
parkiran mobil untuk menunggu jemputan yang akan mengantar kami menuju terminal
Dhaksinarga Wonosari. Selamat tinggal Nglambor, insyaallah suatu saat kami akan
mengunjungi kamu kembali


































No comments:
Post a Comment