Friday, May 11, 2018

Pantai Nglambor Backpackeran


Pantai  Nglambor Backpackeran
Jumat pagi 4 Mei 2018 saya dan zaujah berangkat ke jogja untuk menjenguk anak kami yang sekolah di pondok pesantren SahabatQu Deresan Sleman. Kebetulan penjengukan kali ini dapat 2,5 hari libur, dijemput jumat ba’da ashar dan kembali ahad ba’da ashar.
Libur tersebut kami manfaatkan untuk mengajak nak daffa syarif berlibur ke pantai di Gunungkidul. Setelah searching di web tentang pengalaman backpacker di pantai – pantai Gunungkidul, akhirnya saya memutuskan untuk ke pantai Nglambor. Kredit kami berikan kepada website ayodab.tumblr.com, www.gunungkidulku.com, www.lensanasrul.com, spadepicnic.wordpress.com, threexplorer.blogspot.co.id, pantainglambor.com, dan aecaesa.blogspot.co.id, yang artikel-artikel tentang camping, backpackeran dan pantai Nglambor nya telah memberikan wawasan buat kami untuk  bekal backpackeran ini.
Jumat malam kami survey ke tempat persewaan peralatan kemah di sebelah utara Fakultas Peternakan UGM. Berhubung ini adalah pengalaman pertama kami untuk family camping, maka kami konsultasi dulu dengan penjaga persewaan outdoor gear tentang peralatan paling minimal yang diperlukan untuk camping 3 orang. Lalu kami pun langsung booking tenda doom kapasitas 2 orang 1 unit, matras 2 buah, sleeping bag dakron 3 buah, kompor mini 1 buah, gas mini 1 buah, emergency lamp 1 buah dan Tas kapasitas 60 liter 1 buah. Kami juga membeli headlamp 1 buah untuk tambahan peralatan. Pinjam powerbank adik ipar buat ngecharge hp, ingat disana kalau tidak bawa powerbank pasti kesulitan ngecharge hp buat malam hari.
Sebenarnya kami ingin berangkat ke Gunungkidul sabtu habis shubuh, tapi karena persewaan alat camping buka nya jam 9 pagi maka terpaksa kami pun sesuaikan jadwal dengan jam buka toko tersebut. Karena pertimbangan kalau kami sewa dari jumat malam dan kembali ahad siang maka oleh pihak persewaan dihitung 2 hari. Dari pengalaman ini kami sarankan teman – teman sebaiknya sewa alat camping semalam sebelumnya, dinego saja dengan yang punya toko hitung satu setengah hari, pertimbangan utamanya agar bisa berangkat pagi.
Sabtu pagi kami baru persiapan bekal, mulai beli snack, perlengkapan P3K, sampai mengambil peralatan camping yang telah kami booking tadi malam. Untuk perlengkapan baju sudah kami siapkan semalam sebelumnya, kami masing-masing bawa 2 baju, 1 celana panjang, 1 celana pendek. Akhirnya pukul 10 kami baru bisa berangkat. Perjalanan kami berawal dengan diantar adik ipar ke halte trans Jogja di depan plaza UNY. Tiket trans jogja Rp 3500/orang. Karena dari halte UNY tidak ada trans jogja yang langsung ke Terminal Giwangan, oleh petugas loket kami disuruh nanti turun di halte stadion Kridosono lalu oper trans jogja 4B jurusan ke terminal Giwangan.

Di halte trans jogja plaza UNY
Sampai di terminal Giwangan hampir pukul 11. Kami langsung turun dan menuju ke bus mini jurusan Terminal Dhaksinarga Wonosari. Daffa dan Ibunya duduk di kursi paling depan, saya duduk di kursi samping pak kernet berdiri. Tiket dari terminal Giwangan ke Terminal Wonosari Rp 15000/orang. Saya bayar Rp 50.000 untuk 3 orang awalnya tidak dikasih kembalian, setelah mau masuk Kota wonosari saya Tanya ke pak kernet apakah uangnya pas atau tidak ? ternyata dikasih kembalian Rp 5000.

Suasanan bus jogja – wonosari saat keluar dari terminal Giwangan
Perjalanan dari Giwangan menuju Wonosari cukup menyenangkan. Bus keluar terminal Giwangan dengan penumpang tidak sampai separuh, 9 orang saya hitung . lalu ketika berhenti ngetem di pertigaan ring road dapat tambahan 5 orang penumpang. Sepanjang perjalanan saya menikmati betul pemandangan perbukitan Gunungkidul yang khas bebatuan. Saya masih takjub dengan ciptaan Allah Ar Rahman tanah Gunungkidul  yang berupa perbukitan ‘karst’.  Batuan gamping/kapur, bercampur dengan batuan berongga yang seolah-olah terbentuk karena dimakan Rayap pemakan batu, lalu ditutupi oleh pepohonan jati, kayu jowo, dan belukar. Masyaallah Luar biasa saya sangat takjub. Dikursi depan saya tengok Daffa sudah tidur, sedang zaujah masih asyik menikmati pemandangan sebagaimana saya. ketika diatas bis arah wonosari ini pak kernet menawarkan jasa antar jemput langsung ke pantai Nglambor, tapi karena mereka mematok harga yang terlalu mahal akhirnya kami tolak. Mereka minta ongkos Rp 500.000 pulang – pergi dari terminal wonosari ke TKP pantai Nglambor. Terlalu mahal menurut kami. Akhirnya kami tiba di terminal Wonosari sekitar pukul 14. Begitu turun kami langsung diserbu dengan orang-orang yang menawarkan jasa antar jemput ke tempat-tempat wisata Gunungkidul. Tidak Nampak ada angkot ataupun angkudes seperti yang banyak diceritakan para blogger menuju ke Jepitu via Tepus atau jalur 11, bisa jadi karena kami kesiangan tiba di terminal wonosari hingga angkudes tersebut sudah habis trayek untuk hari itu. Dan akhirnya kami pun memutuskan nyarter mobil plat hitam saja. Setelah nego harga akhirnya kami sepakat untuk memakai jasa mas ari pemilik mobil carry dengan harga antar Rp 125.000 dan harga jemput Rp 100.000 untuk rute terminal Dhaksinarga – pantai Ngambor lewat pasar Semanu. Saat lewat pasar Semanu kami bilang kepada mas Ari untuk berhenti di salah satu warung makan Ayam Goreng depan apotek Semanu. Disitu kami makan siang dengan menu fried chicken paketan Rp 12.000/ paket dan juga bungkus Nasi goreng Rp 10.000/bungkus untuk makan malam. Di rumah makan tersebut rupanya ada pelajar putri setingkat SMP yang lagi pesta ulang tahun. Acara makan mereka sih sudah selesai, tapi aksi foto – fotonya itu yang bikin Daffa kurang nyaman. Maklum mereka seusia jadi pasti ada rasa geer dikit sesama remaja. Puber. Kami juga mengambil uang di ATM Bank BPD pasar semanu mengingat setelah ini kata sopir tidak ada lagi atm. Setelah makan kami lalu lanjutkan perjalanan menuju TKP. Subhanallah unik juga rasanya backpackeran, saya meskipun orang desa tapi tidak bosan-bosannya dengan pemandangan pedesaan Gunungkidul. Ditengah perjalanan sopir kami menunjukan bahwa dulu bukit yang kami lewati ini terendam banjir pada November 2017. Kami pun tak habis pikir masak gunung bisa banjir ? tapi begitulah ketika Allah Al Aziz hendak menguji hambanya apapun cobaan bisa terjadi.
Suasana pedesaan menuju Nglambor
Tibalah kami diparkiran pantai Nglambor sekitar pukul 15.30. yang unik ternyata saat lewat pos restribusi kami tidak ditarik tiket masuk, tapi dari keterangan sopir kami tiketnya hanya Rp 5.000/orang. Setelah turun dari mobil pengantar, banyak ojek menawari kami untuk mengantar ke pantai, tapi kami memilih jalan kaki ke arah pantai. Setelah berjalan kira-kira 10 menit Daffa berkata “wah udah bau pantai pak”, ternyata benar beberapa langkah kemudian pantai Nglambor pun terlihat dipandangan mata. Lega, senang, mata pun berbinar bisa menyaksikan keindahan pantai laut selatan dengan gulungan ombaknya menderu dan menghantam 2 pulau karang yang terbentang dipandangan kami.

 


Turun di parkiran mobil lalu jalan kaki ke arah pantai




Pantai Nglambor sudah mengintip.
Melewati jalan menurun ada tanda panah ke kiri pantai Nglambor dan wahana snorkelingnya, kami ikuti jalan tersebut hingga dapati sebuah pemandangan menakjubkan pantai berpasir putih, dilindungi dua pulau karang yang menghadang ombak laut selatan, bergulung – gulung ombak menghantam lalu pecah menjadi buih putih menyejukkan mata memandang, puluhan wisatawan berenang dengan asyik, ada yang terlihat mencari biota laut, serta sebagian duduk-duduk diatas pasir putih nikmati angin pantai yang menyejukkan. Subhanallah lunas sudah rasa lelah letih perjalanan kami.



2 Pulau karang pelindung pantai Nglambor


Sore hari air laut surut

Waktu menunjukkan pukul 15.30 kamipun shalat dhuhur jamak dan shalat ashar di Mushola kecil berpanggung  yang ada dilokasi pantai. Selepas shalat kami langsung mendirikan tenda disamping timur rumah mbah Mo (mbah Sutiyem), sesepuh Nglambor yang sangat ramah menyapa kami. Setelah tenda doom berdiri, lantas kami letakkan barang-barang didalam tenda kemudian bergegas menuju pantai untuk bermain air.

Jembatan menuju pulau karang. Tiket masuk jembatan Rp 30.000/org


Liat ikan – ikan yang terjebak di karang tatkala laut surut


Bulu babi bersembunyi dibalik bebatuan

Sabtu malam ahad kami menginap di pantai ditemani bintang-bintang di langit yang terlihat bersinar terang. Suasananya sungguh syahdu. Gelap malam dan suara dentuman ombak menemani kami malam itu. Tiba waktu maghrib kami pun menunaikan shalat. Selepasnya kami memasang kompor untuk bikin minuman hangat. Jahe, coklat panas dan sereal hangat memberi kehangatan untuk tubuh kami. Nasi goreng yang sebelumnya kami bungkus dipasar Semanu pun jadi menu santap malam. Alhamdulillah kenyang banget. Tak seberapa lama ada pemandangan unik penduduk kampung yang notabene para pemilik warung, wahana snorkeling, serta penjaga penginapan terlihat berjalan turun ke pantai dengan headlamp terpasang. Rupanya saat lepas isya’ adalah waktu terbaik untuk berburu ikan, lobster, bulu babi, gurita, udang, dan beberapa biota laut lain sebagai penambah nafkah untuk mereka penduduk Nglambor. Kami hanya menyaksikan dari atas melihat sorot headlamp yang menyinari perburuan biota laut tersebut. Buat anda yang ingin menginap di Nglambor kami sarankan untuk mebawa bekal headlamp, sepatu karet, dan serok ikan agar bisa merasakan keunikan aktifitas berburu binatang laut. Beberapa saat kemudian tiba rombongan anak-anak muda sekitar 10 orang yang ternyata juga akan camping di Nglambor. Alhamduillah ada teman akhirnya. Pukul 20.30 rupanya mata kami sudah tidak mampu untuk membuka, kamipun mulai merapikan tempat tidur. Daffa dan ibunya tidur didalam tenda, sedang saya menggelar matras dan masuk dalam kepompong sleeping bag untuk tidur diluar tenda. Berharap besoknya bisa bangun fajar untuk shalat shubuh kemudian berburu sunrise dipuncak bukit sebelah timur kami.


Bikin kopi dulu sebelum makan malam


Menu makan malam nasgor bungkus sewaktu di pasar Semanu

Ternyata malam itu saya berulang kali terjaga, dan tiap kali terbangun yang terdengar adalah dahsyatnya gemuruh ombak laut selatan serta yang terpampang adalah indahnya bintang – bintang dilangit. Masyaallah seneng banget, pengalaman pertama camping keluarga yang nyaris sempurna buat kami. Rupanya didalam tenda suhunya agak panas, sehingga daffa dan ibunya malah menjadikan sleeping bag sebagai alas tidur. Kalau tahu begini kami hanya perlu sewa 1 buah sleeping bag saja, karena camping yang kami lakukan di awal musim kemarau sehingga udara di daerah pantai tidak terlalu dingin.
Pukul 2 dini hari kami bertiga terbangun, menjalani panggilan alam, lalu menyalakan kompor untuk masak mie instan cup sambil lagi-lagi menikmati indahnya kemilau bintang yang menaungi kami. 30 menit kemudian kami tidur kembali sambil berharap agar tidak bangun kesiangan. Alarm pukul 4 fajar membangunkan saya yang lantas diikuti oleh Zaujah dan anak kami daffa. Setelah duduk-duduk untuk mengumpulkan nyawa yang terserak, lantas kami mengambil wudlu dan hendak shalat shubuh di musholla, tapi rupanya musholanya telah berubah menjadi hotel muslimah karena rombongan anak-anak muda yang lepas isya’ baru datang tersebut yang cewek pada tidur di dalam musholla. Akhirnya shalat jama’ah shubuh pun terpaksa dilangsungkan di depan tenda kami. Selepas itu kami pun bersiap menaiki bukit sebelah timur tenda kami untuk berburu sunrise, bekal kecil kami siapkan kompor dan beberapa mie instant untuk bekal sarapan diatas bukit.

Terbangun malam memenuhi panggilan alam. ‘Bongkar muatan’ lalu ‘isi kembali’

Perburuan sunrise diatas bukit Nglambor ternyata tidak mulus, karena medannya cukup sulit dilakukan tanpa alat pendakian yang memadai. Buat teman-teman yang ingin berburu sunrise di puncak bukit Nglambor kami sarankan membawa peralatan minimal sarung tangan, sepatu gunung, serta headlamp untuk tiap – tiap individu. Pendakian kami terhenti di pintu masuk arah Golden beach. Tapi sampai di spot tersebut pun rasanya sudah luar biasa. Mantap sekali pemandangannya. Terlihat jembatan bambo yang tersusun diatas bukit karang menuju Golden beach. Bahkan pantai Siung pun tampak dari spot kami berdiri, terlihat ada sekitar 5 tenda doom berdiri di pantai Siung. Sarapan pagi dengan menu mie rebus dan goreng menemani kami bercengkerama diatas bukit karst Nglambor.  Sebelah timur tampak nelayan pantai Siung mulai menjemput rejeki di samudera Indonesia, mereka berpacu dengan waktu sebelum ombak-ombak ganas laut selatan datang untuk mamaksa nelayan tersebut kembali ke daratan. Perlu diketahui waktu pasang sekitar pukul 11 sampai pukul 14, selepas itu laut akan surut tetapi ombak tetap mengganas.


Perburuan sunrise di bukit sebelah timur yang kali ini belum berhasil


Pantai Siung terlihat dari atas bukit sisi timur


Sarapan diatas bukit


Matahari mulai mengintip di balik bukit


Jembatan menuju Golden beach masih ditutup
Ketika matahari mulai naik dan kami pun sudah puas dengan pemandangan pagi diatas bukit, kami pun turun untuk menjalani menu utama hari ini, snorkeling. Ongkos wisata snorkeling disini Rp 50.000/orang sudah komplit paket sewa pelampung, kacamata, selang snorkel, sepatu karet, welcome drink, penitipan bekal, serta foto-foto underwater bersama para penghuni terumbu karang Nglambor. Meskipun kami bertiga tidak jago renang, tapi kami merasa aman dan nyaman snorkeling di sini karena pemandu selalu berjaga mengawasi keamanan kami. Jika kira-kira kami mulai agak menjauh dari rombongan, biasanya kami diseret oleh pemandu untuk berada pada radius aman snorkeling. Ingat pantai Selatan tidak boleh diremehkan karena ombaknya meskipun telah dihadang oleh dua pulau karang tetapi juga masih berbahaya karena langsung berhadapan dengan palung samudera Indonesia. Puas rasanya snorkeling di Nglambor. Inilah pertama kalinya kami snorkeling.

Persiapan snorkeling di gerai Bintang Nglambor Snorkeling dan briefing oleh pemandu




Pengalaman yang sangat berkesan. Daffa terlihat sangat menikmati pengalaman snorkelingnya, hingga terkadang saking asyiknya dia agak menjauh dari rombongan, tapi selalu masih ada seorang pemandu didekatnya yang membuat saya tenang meskipun ibunya sering teriak memanggil dia untuk merapat kerombongan. Maklum naluri keibuan membuat zaujah agak rewel memperingatkan anak tercintanya. Andai paket snorkeling ini tidak dibatasi waktu, Rasanya kami tak ingin keluar dari air laut. Tapi apa boleh buat semua ada batasannya, disamping itu waktu juga sudah agak siang, teringat kami janjian dengan driver penjemput untuk sampai diparkiran Mobil pukul 11 siang. Dengan berat hati  kami mengakhiri liburan di Nglambor ini, mandi bilasan, serta berkemas untuk pulang. Setelah mengemasi seluruh peralatan camping tak lupa kami menaiki bukit disebelah barat tenda untuk menyaksikan keindahan pantai Nglambor dari bukit sisi barat.







View dari bukit sebelah barat mushola



Bukit sebelah timur yang tidak berhasil kami taklukan.

                Waktu sudah pukul 10.30 akhirnya kami pun pamit kepada mbah mo (mbah sutiyem), beliau adalah sesepuh kampung Nglambor yang telah babat alas membuka wisata pantai disini. Sekarang anak-anak dan cucu - cucu nya yang memakmurkan wisata disini dengan membuka paket snorkeling, warung makan ikan bakar, serta penginapan. menuju parkiran mobil untuk menunggu jemputan yang akan mengantar kami menuju terminal Dhaksinarga Wonosari. Selamat tinggal Nglambor, insyaallah suatu saat kami akan mengunjungi kamu kembali